topmetro.news, Medan – Langkah humanis Kapolrestabes Medan Kombes Pol Dr Jean Calvijn Simanjuntak saat menghadapi aksi demo ‘panas’ menolak Surat Edaran Wali Kota Medan, menuai dukungan. Aksinya mengajak pendemo berdoa saat kondisi ‘memanas’, adalah tindakan bijak yang menjadi pendingin di tengah ‘tensi tinggi’.
Demikian antara lain disampaikan Ketua Umum DPP HBB (Horas Bangso Batak) Lamsiang, menanggapi tuntutan pencopotan Kapolrestabes Medan oleh sejumlah pihak. “Andai bukan karena aksi bijak Kapolrestabes Medan Kombes Pol Jean Calvijn Simanjuntak, Kota Medan saat itu mungkin sudah ‘chaos’,” tegas Lamsiang Sitompul, Sabtu (7/3/2026).
Sehingga dia pun mempertanyakan, apa alasan sebenarnya dari mereka yang mendesak pencopotan dimaksud. Lamsiang menilai, tuntutan sekelompok pihak yang meminta Kapolri mencopot Kapolrestabes Medan hanya gara-gara memimpin doa di tengah massa aksi, adalah tindakan yang berlebihan dan tidak tepat sasaran.
“Tindakan Kombes Pol Jean Calvijn saat menghadapi massa pendemo justru merupakan langkah cerdas untuk meredam tensi tinggi. Saat itu, situasi antara massa aksi dan pihak Pemko Medan sempat menemui jalan buntu (deadlock). Situasi sudah sangat panas saat itu. Ada kebuntuan antara pendemo dengan Walikota Medan. Pendemo minta surat edaran dicabut, sementara Wali Kota terkesan mempertahankan. Kondisinya genting,” ungkap Lamsiang.
Ia menegaskan, inisiatif Kapolrestabes memimpin doa di tengah kerumunan massa terbukti ampuh mendinginkan suasana yang nyaris ‘meledak’. “Dengan adanya doa yang dipimpin Kapolrestabes, suasana jadi sejuk. Kita yang tadinya panas malah jadi malu kalau sampai melakukan tindakan anarkis usai berdoa. Itu membuat suasana hati pendemo tenang, yang marah jadi adem,” tegasnya.
“Tentu saja kami malu kalau anarkis dan merusak fasilitas umum sambil meneriakkan nama Tuhan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Lamsiang membandingkan strategi humanis kepolisian tersebut dengan aksi-aksi di tempat lain, termasuk di Mabes Polri. Di mana polisi kerap menyambut pendemo dengan pendekatan religius dan persuasif.
“Apa bedanya dengan demo di Mabes Polri? Polisi menyambut pendemo pakai kopiah, sorban, atau hijab. Itu kan tujuannya menyejukkan suasana. Jadi menurut saya, tindakan Kapolrestabes itu sudah benar dalam rangka menenangkan situasi,” tambahnya.
Ada Apa?
Pengacara ini juga mengaku heran, kenapa figur yang getol memberantas narkoba, malah diminta copot karena mengajak pendemo berdoa. “Aneh. Beliau getol memberantas narkoba. Lalu karena mengajak pendemo berdoa, diminta turun. Kan akhirnya bandar yang ‘tepuk tangan’. Ada apa ini sebenarnya? Tujuan dan target mereka sebenarnya apa…?” tanya Lamsiang Sitompul.
Lamsiang Sitompul juga meminta aparat kepolisian bertindak tegas dan tanpa kompromi terhadap oknum-oknum yang mencoba menunggangi polemik penataan ternak babi di Sumatera Utara dengan narasi provokatif dan isu SARA.
Pernyataan tegas ini menyusul semakin liarnya unggahan di media sosial yang dinilai sudah melenceng jauh dari substansi penataan. Bahkan menjurus pada ujaran kebencian dan hasutan yang mengancam kerukunan masyarakat.
Lamsiang meminta Kapolda Sumut dan Kapolrestabes Medan segera menyisir akun-akun maupun oknum yang mengatasnamakan pribadi atau lembaga yang menyebarkan kebencian.
“Saya minta Kapolda dan Kapolrestabes Medan menindak tegas. Bila perlu mereka ditangkap…! Jangan biarkan mereka jadi provokator. Masyarakat sudah gerah melihat ulah segelintir orang yang terus-menerus membangun narasi provokatif,” tegas Lamsiang.
Menurutnya, polemik yang seharusnya soal penataan teknis, kini digiring menjadi isu liar yang menyangkut-pautkan agama hingga ajakan perang.
“Kita lihat banyak berseliweran di medsos, ada yang mengajak perang, ada yang menjelek-jelekkan agama. Ini sudah isu SARA. Polisi tidak perlu menunggu laporan, karena ini bukan delik aduan. Fokus saja tindak tegas para pelaku itu,” pungkasnya.
reporter | TIM

